sumber: http://fenz-capri.blogspot.com/2010/09/anak-ini-selalu-berhenti-bernafas-saat.html
Senin, 13 September 2010
Berhenti Bernafas, Bila Tidur
sumber: http://fenz-capri.blogspot.com/2010/09/anak-ini-selalu-berhenti-bernafas-saat.html
Arti MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN Sebenarnya
Ucapan ini: Selamat Hari Raya Idul Fitri, Taqobalallahu Minnaa wa Minkum, Minal 'Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin, merupakan ucapan yang biasa disampaikan dan diterima oleh kaum muslimin di hari lebaran baik melalui lisan ataupun kartu ucapan idul fitri. Ada dua kalimat yang diambil dari bahasa arab di sana, yaitu kalimat ke dua dan tiga. Apakah arti kedua kalimat itu? Dari mana asal-usulnya? Sebagian orang kadang cukup mengucapkan minal 'aidin wal faizin dengan bermaksud meminta maaf. Benarkah dua kalimat yang terakhir memiliki makna yang sama?
sumber: http://fenz-capri.blogspot.com/2010/09/wah-ternyata-arti-minal-aidin-wal.html
Foto Perobekan Kitab Suci Al-Quran di AS
Andrew Beacham merobek beberapa lembar isi kitab Alquran. AFP/Nicholas Kamm.
Aksi yang dilakukan para aktivis ini bertentangan dengan apa yang diinginkan oleh Presiden Obama tentang hubungan AS dan Islam. Menurut Obama Islam bukan musuh AS. AFP/Nicholas Kamm.
Sebelum merobek, Andrew Beacham membaca beberapa lembar isi Alquran yang isinya tentang permusuhan dengan Kristen dan Yahudi. AFP/Nicholas Kamm.
sumber :http://foto.detik.com/readfoto/2010/09/12/142628/1439473/157/1/aksi-perobekan-alquran-di-as?992205462
Minggu, 29 Agustus 2010
Macet Selama 10 Hari

Kemacetan di China Hingga 10 Hari
BEIJING - China, yang dinyatakan sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia memiliki masalah besar. Tingkat kemacetnya sudah menggila, hingga lebih dari satu minggu.
Dipicu dengan perbaikan jalan, kemacetan tersebut dimulai 10 hari yang lalu sepanjang 100 kilometer. Menurut petugas setempat, krisis jalanan tersebut akan bertahan hingga tiga minggu.
Dalam keadaan macet parah di wilayah utara China itu, para pengemudi menghabiskan waktunya di dalam mobil yang tidak bergerak sama sekali dengan bermain kartu. Ada juga yang tidur di atas jalanan, atau menawar makanan dari penjual keliling.
Truk yang mengangkut buah-buahan dengan tidak menggunakan es, dipastikan akan membusuk.
Pada hari Minggu, atau hari kedelapan dari kemacetan itu terjadi, truk hanya bergerak sepanjang satu kilometer. China Central Television melaporkan bahwa ada beberapa kendaraan yang sudah terhadang macet selama lima hari.
Tidak ada toilet di sepanjang jalan, memaksa para pengendara mencari lokasi ke tempat tinggi untuk buang hajat. Demikian lansir Associated Press, Kamis (26/8/2010).
Untungnya, hingga saat ini belum ada kejahatan yang terjadi. Hanya saja para pengendara mengeluhkan mahalnya makanan dan minuman yang dijajakan penduduk setempat menggunakan sepeda. Harga air minum botol harganya bisa mencapai 10 kali lipat dari harga normalnya.
Kemacetan yang parah tersebut dimulai pada 14 Agustus kemarin, disebabkan perbaikan jalan raya di wilayah selatan yang menghubungkan ke Beijing.
(rhs)
Macet Selama 10 Hari

Kemacetan di China Hingga 10 Hari
BEIJING - China, yang dinyatakan sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia memiliki masalah besar. Tingkat kemacetnya sudah menggila, hingga lebih dari satu minggu.
Dipicu dengan perbaikan jalan, kemacetan tersebut dimulai 10 hari yang lalu sepanjang 100 kilometer. Menurut petugas setempat, krisis jalanan tersebut akan bertahan hingga tiga minggu.
Dalam keadaan macet parah di wilayah utara China itu, para pengemudi menghabiskan waktunya di dalam mobil yang tidak bergerak sama sekali dengan bermain kartu. Ada juga yang tidur di atas jalanan, atau menawar makanan dari penjual keliling.
Truk yang mengangkut buah-buahan dengan tidak menggunakan es, dipastikan akan membusuk.
Pada hari Minggu, atau hari kedelapan dari kemacetan itu terjadi, truk hanya bergerak sepanjang satu kilometer. China Central Television melaporkan bahwa ada beberapa kendaraan yang sudah terhadang macet selama lima hari.
Tidak ada toilet di sepanjang jalan, memaksa para pengendara mencari lokasi ke tempat tinggi untuk buang hajat. Demikian lansir Associated Press, Kamis (26/8/2010).
Untungnya, hingga saat ini belum ada kejahatan yang terjadi. Hanya saja para pengendara mengeluhkan mahalnya makanan dan minuman yang dijajakan penduduk setempat menggunakan sepeda. Harga air minum botol harganya bisa mencapai 10 kali lipat dari harga normalnya.
Kemacetan yang parah tersebut dimulai pada 14 Agustus kemarin, disebabkan perbaikan jalan raya di wilayah selatan yang menghubungkan ke Beijing.
(rhs)
5 Pemimpin, Peenggut Nyawa
Kita sebagai bangsa Indonesia berharap bahwa jumlah 2 juta jiwa yang dilansir oleh lebaga HAM tersebut salah, mungkin hanya 200 ribu saja, mungkin hanya 2000 orang saja yang menjadi korban akibat pertikaian politik mulai dari pemebrantasan PKI, Timor Timur, Tanjung Priok, Talangsari, Trisakti sampai kerusuhan menjelang lengsernya suharto pada tahun 1998. Dua juta jiwa itu setara dengan jumlah penduduk kota Bandung.
Kamis, 19 Agustus 2010
Paris Mean Time, Kenangan Perancis 1884
Medali Arago (dok detikcom)
Jakarta - Sebelum Arab Saudi mengajukan Makkah sebagai pusat waktu dunia, Prancis juga pernah ikut dalam kontestasi yang sama pada tahun 1884. Prancis kalah, namun garis waktu Paris Mean Time (PMT) tetap menjadi kenangan sampai saat ini.
Ketika bangsa-bangsa di Eropa bertanding dalam penjelajahan samudera, saat itulah mereka merasa perlu memiliki sebuah acuan waktu untuk dicantumkan dalam peta-peta penjelajahan lautan.
Raja Louis XIII pada 1634 sudah memerintahkan para ahli astronomi Prancis menyusun garis nol derajat untuk acuan waktu yang disebut Paris Meridian Time (PMT). Setelah hampir dua ratus tahun, PMT akhirnya mencapai bentuk paling presisi dari perhitungan yang dilakukan Francois Arago pada tahun 1880.
Pada dekade itu, sudah ada 10 garis waktu dari negara lain yaitu Greenwich, Berlin, Cadiz, Kopenhagen, Lisbon, Rio de Janeiro, Roma, Saint Petersburg, Stockholm, dan Tokyo. International Meridian Conference di Washington DC, pada 1884 lalu memutuskan Greenwich Mean Time (GMT) sebagai pemenangnya.
Lalu bagaimana sikap Prancis? Prancis memilih abstain dan ngotot memakai PMT. Barulah pada 1911, Prancis manut memakai GMT. Namun, tidak lantas mereka melupakan PMT. Walaupun kalah, PMT tetap jadi kebanggaan Prancis.
PMT tetap dikenang oleh Prancis sebagai salah satu puncak kemajuan ilmu astronomi mereka. Garis waktu ini bahkan dianggap suci karena melewati istana Raja Louis yang kini menjadi museum Louvre, Gereja Saint Sulpice, dan Observatorium Paris. Ini adalah simbol penggabungan kekuatan raja, gereja, dan ilmuwan.
Sebagai penghormatan kepada Arago, Pemerintah Kota Paris pada 1994 menyebar 135 medali perunggu bertuliskan 'ARAGO' dalam satu garis yang membelah Paris dari Utara ke Selatan. Garis ini tepat di bawah PMT.
Ketika detikcom berkunjung ke Paris pada Rabu (29/4/2009), medali ini masih bisa ditemui. Medali Arago antara lain ada di sekitar piramid kaca di Museum Louvre.
Medali ini pula yang mengilhami Dan Brown untuk membuat novel Da Vinci Code. Menurut Dan Brown, PMT adalah garis suci Paris Rose Line sebagai penanda lokasi makam Maria Magdalena yang misterius.
Lantas, bagaimanakah akhir dari Arab Saudi memperjuangkan Makkah Mean Time? Kita tunggu saja.
(fay/nrl)
Mekah Mean Time dalam Hitungan Waktu
JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi LIPI Mego Pinandito mengatakan, wacana pemindahan titik standar waktu dari kota Greenwich atau Greenwich Mean Time (GMT) ke kota Mekkah yang disebut Mekkah Mean Time (MMT) kemungkinan hanya menggeser waktu di Indonesia.
"Kalau hanya perpindahan waktu yang dipindah dari Greenwich ke Mekkah kemungkinan hanya menggeser waktu di Indonesia saja. Yang tadinya +7 jam GMT untuk WIB, berubah jadi +4 jam MMT," katanya, Senin (16/8/2010), saat dihubungiKompas.com.
Perubahan waktu ini akan berdampak besar pada aktivitas masyarakat sehari-hari, mulai dari kegiatan ekonomi, telekomunikasi, hingga penerbangan internasional. Mego melanjutkan, penetapan MMT ini juga belum jelas konsepnya. Apakah yang diganti hanya patokan waktu ataukah garis bujur ditarik jadi nol derajat berada di kota Mekkah.
"Kita lihat dulu konsepnya seperti apa. Kalau sampai menarik bujur nol derajat, tentu posisi astronomis negara berubah semua. Peta tentu akan berubah," ujarnya.
Akan tetapi, menurutnya, ketetapan MMT oleh pemerintahan Arab Saudi ini harus didukung dunia internasional, tidak bisa bersifat parsial, atau hanya disetujui sebagian negara saja.
"Semua negara harus sepakat, seperti dengan GMT. Dengan begitu, barulah konsep ini bisa jalan, tidak bisa parsial," ungkapnya.
Pemerintahan Arab Saudi kini tengah membangun sebuah jam raksasa di pusat kota Mekkah, tepatnya di puncak Menara Abraj-Al Bait. Menara jam ini dikabarkan lima kali lebih besar dari menara jam Big Ben di Inggris. Selain itu, pembangunan menara raksasa tersebut juga merupakan langkah pemerintahan Arab Saudi dalam mewujudkan ambisi mengubah pusat waktu dunia dari Greenwich ke Mekkah.
Arab Saudi mengklaim bahwa kota suci Mekkah sebagai pusat episentrum dunia bahwa tidak ada kekuatan magnetik di kota ini. Akan tetapi, wacana MMT ini bukan perkara mudah karena harus mengubah paradigma dunia internasional yang sudah 126 tahun menggunakan standar waktu GMT.
Dukungan GMT Diganti Makkah Mean Time
Reuters
Jakarta - Dukungan penggantian Greenwich Mean Time (GMT) dengan Makkah Mean Time (MMT) muncul di jejaring sosial Facebook. MUI dan pemerintah diminta turut mensponsori pergantian itu.
Pergantian titik nol dari Greenwich ke Makkah ini setidaknya akan mengurangi masalah penentuan tanggal 1 Ramadan atau Syawal di Indonesia dan negara lainnya.
Si pembuat grup DUKUNG GMT DIGANTI DENGAN MEKKAH MEAN TIME (MMT), Elfizon Anwar, berharap, ambisi Makkah tersebut bisa menjadi kenyataan. Dengan adanya waktu dan sistem kalender sendiri, masalah-masalah yang biasanya terjadi pada penentuan waktu seperti 1 Ramadan atau 1 Syawal, tidak akan terjadi lagi.
"Dengan adanya perubahan permulaan titik 'nol'-nya ini, Insya Allah umat Islam akan mempunyai waktunya tersendiri dan melengkapi almanak hijriah umat Islam itu sendiri," begitu pendapat si pembuat grup yang beralamat di Tangerang, saat dijenguk Jumat (13/8/2010).
Grup tersebut belum ramai, baru didukung 41 facebooker. Dua topik yang dilempar Elfizon dalam forum diskusi, yakni 'Menghitung Waktu Dunia' dan 'Dahsyatnya Akibat Janji dan Sumpah', belum ditanggapi.
Grup ini muncul setelah pemerintah Arab Saudi melansir soal ambisinya mengubah pusat waktu dunia dari Greenwich ke Makkah. Saat ini, pemerintah Arab Saudi sedang merampungkan proyek menara jam raksasa di kota Makkah.
Menara jam tersebut lima kali lebih besar dibandingkan Big Ben di London. Meski bangunannya belum sepenuhnya rampung, jam raksasa yang terletak di puncak menara Abraj Al-Bait itu sudah mulai berdetak.
Menara jam ini berbentuk kubus empat sisi. Diameter jam mencapai 40 meter, mengalahkan jam terbesar sebelumnya yang menjadi atap Cevahir Mall di Turki dengan diameter 35 meter. Waktu yang digunakan oleh jam tersebut adalah Arabia Standard Time, tiga jam lebih dulu jika dibandingkan dengan GMT.
Sejak 125 tahun lalu, GMT telah disepakati sebagai wilayah yang dijadikan ukuran awal waktu dunia karena dilalui titik nol derajat. Penentuan titik ini penting untuk mempermudah ukuran waktu perjalanan dan komunikasi antar-negara.
Namun, bagi Arab Saudi, Makkah dianggap lebih tepat sebagai episentrum dunia. Kota suci umat muslim tersebut diklaim sebagai wilayah tanpa kekuatan magnetik, artinya jarum kompas tidak bergerak di daerah ini.
(ken/nrl)
Sebuah Kisah Tentang Nama "Indonesia"
Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa).
Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).
Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).
Eduard Douwes Dekker ( 1820 – 1887 ), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" ( Bahasa Latin insula berarti pulau). Nama Insulinde ini kurang populer.
Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan ( 1819 – 1869 ), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Ingris, George Samuel Windsor Earl ( 1813 – 1865 ), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:
"... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians".
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon ( Srilanka ) dan Maladewa. Earl berpendapat juga bahwa nahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:
"Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago".
Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826 – 1905 ) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat ( Ki Hajar Dewantara ). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Nama indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof. Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiër (orang Indonesia).
Identitas Politik
Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya :
"Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."
Di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924). Pada tahun 1925, Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda menolak mosi ini.
Dengan jatuhnya tanah air ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda". Dan setelah itu lahirlah bangsa Indonesia.
