Jumat, 30 Juli 2010

Gerakan Pindah ibukota Hias Facebook

Share

VIVAnews - Aspirasi pemindahan Ibukota Indonesia juga berkembang di jaringan media sosial Facebook. Sampai Kamis ini, 29 Juli 2010,VIVAnews menemukan belasan grup dan halaman bertema pemindahan Ibukota dari Jakarta.


Salah satu yang terbesar adalah "Dukung Pemindahan Ibukota Indonesia" yang didirikan Sayed Machfud. Grup ini diikuti 12.096 anggota dan diurus oleh dua orang termasuk Sayed.

Di bagian profilnya ditulis: "Kota bisnis dan pusat pemerintahan seharusnya terpisah, memutus mata rantai korupsi. Kesejahteraan wajib disebar dan dirasakan oleh seluruh anak Bangsa dari Sabang hingga Merauke. Undang teman Anda bergabung, tunjukkan Anda peduli."

Sayed menulis Jakarta mengemban beban predikat yang terlampau banyak. Selain sebagai Ibu Kota negara, Jakarta juga menjadi pusat pemerintahan, bisnis, dan pendidikan. Kondisi inilah yang kemudian menciptakan arus urbanisasi ke Jakarta dan kemacetan di mana-mana. Persoalan ini bisa jadi merupakan akar dari permasalahan kriminal, korupsi, penindasan hak asasi manusia dan tidak meratanya pembangunan di seluruh wilayah di nusantara.

Di bagian diskusi grup ini, sudah terdapat belasan posting mengenai isu ini. Diskusi pun berjalan ramai, terbukti dengan banyaknya masukan dari anggota.

Kemudian ada tujuh grup mendukung pemindahan Ibukota ke Kalimantan. Salah satu yang menarik adalah "Dukung Ibukota Pindah dari Jakarta ke Kota Merdeka, Kalimantan Tengah" yang didirikan Adhi Wena Wirya Wiyudi.

Dalam sebuah posting di bagian diskusi, Adhi menulis Jakarta sangat tidak layak lagi menjadi Ibukota. Jakarta sudah kelebihan populasi, katanya.

"Saat ini jumlahnya sekitar 10 juta jiwa. Pada hari kerja dengan pekerja dari wilayah Jabotabek, penduduk Jakarta menjadi 12 juta jiwa. Jumlah penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi diperkirakan sekitar 23 juta jiwa."

"Jika Jakarta terus dibiarkan jadi ibukota, maka jumlah ini akan terus membengkak dan membengkak. Akibatnya kemacetan semakin merajalela. Jumlah kendaraan bertambah. Asap kendaraan dan polusi meningkat sehingga udara Jakarta sudah tidak layak hirup lagi."

Adhi lalu melansir 10 macam dampak terhadap Jakarta. Beberapa di antaranya adalah kemacetan, pembangunan tidak merata, dan timbulnya kriminalitas yang tinggi.

Bagaimana menurut Anda? (kd)

• VIVAnews

0 comments:

Posting Komentar

Telenesia9 MMX